Gerakan sama, durasi sama, frekuensi juga sama, tapi kok hasilnya berbeda ya? Mungkin teman-teman sudah melakukannya sementara Anda belum. Apa rahasia mereka ya?
1. Isi botol dengan air, bukan bakteri
Isilah air minum di rumah karena air yang disediakan oleh pihak gym belum tentu bersih. Air yang tercemar bakteri bisa menyebabkan infeksi paru-paru, kulit, dan mata.
2. Gunakan ponsel sebagai motivator
Aplikasi yang bisa membantu melacak seberapa banyak dan sering Anda berolahraga, gunakan itu untuk memotivasi diri lebih lagi. Ini semua berkat efek Hawthorne, yakni kecenderungan untuk bertingkah berbeda saat tahu diri sedang diobservasi (bahkan jika observernya adalah Anda).
3. Lemaskan otot
Di setiap akhir latihan, selalu lakukan gerakan pelemasan otot berikut. Ambil alas lalu duduklah berlutut. Bawa tubuh dan tangan menjulur ke depan jauh-jauh hingga dada mendekati lantai, tangan dan kepala menyentuh matras. Cara lain adalah menggunakan foam roller untuk melemaskan otot yang kaku.
4. Pemanasan dengan giat
Anda mungkin pernah mendengar bahwa stretching sebelum latihan takkan meningkatkan performa. Meski begitu tak berarti Anda boleh melewatkan pemanasan. Ketimbang pemanasan kuno seperti menyentuh jari kaki dan meregangkan tubuh, coba lakukan gerakan yang lebih dinamis agar suhu tubuh meningkat lebih cepat dan otot siap bergerak. Lakukan beberapa gerakan yang mencerminkan olahraga yang akan Anda lakukan. Misalnya sebelum berenang, ayunkan tangan lebih dulu.
5. Siapkan semuanya
Baik musik, alat/ mesin, spot untuk bergerak, pakaian, minuman, hingga video yang ingin dipakai, semuanya harus dipersiapkan sebelum Anda mulai latihan agar tak mengganggu jalannya olahraga.
